Pengemis..? heemm.. apa ya kira-kira yang ada di benak teman-teman semua
mendengar kata ini, mungkin hampir dipastikan anda-anda berpikiran kalau
pengemis itu adalah orang-orang yang meminta minta uang ,barang atau mungkin jasa kepada setiap orang yang ditemuinya, ya memang itulah kira-kira gambaran seorang pengemis.
Banyak macam jenis pengemis , namun tak banyak macam dan tingkah laku
pengemis yang bisa dijelaskan di sini,ada macam pengemis yang disebabkan
keterpaksaan dikarenakan ketidak mampuannya dalam hal keuangan atau
bisa disebut juga orang miskin atau fakir yang meminta-minta agar
mendapatkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ada juga karena faktor malas,biasanya pengemis ini adalah seorang pengangguran, yah mungkin dikarenakan sulit mendapatkan pekerjaan, sementara kemampun dan keterampilan tidak dimiliki ditambah lagi semangat dan mental yang lemah, sehingga jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang adalah jadi seorang pengemis, bahkan ada juga pengemis yang terkoordinir oleh suatu komplotan atau sindikat,lagipula si pengemis akan menyerahkan atau menyetorkan sebagian hasilnya kepada sindikat tersebut sebagai jaminan keamanan…
Yah memang banyak jenis pengemis menurut definishi dan pemikiran yang
berbeda-beda,lagi pula saya tidak bermaksud menuliskan secara rinci
segala permasalahan maupun solusi tentang pengemis di halaman ini.
Di sini akan diceritakan bagaimana pengalaman saya dengan seorang pengemis..
Kejadian ini terjadi lebih dari setengah tahun yang lalu,hari dan tanggalnya
saya lupa, saat itu saya sedang mengendarai sepeda motor di kawasan
Banjarmasin Tengah, tiba-tiba ponsel disaku celana saya berbunyi, sayapun
segera menepi untuk menerima si penelepon, o, ternyata salah seorang
rekan kerja saya, cukup lama juga kami berbicara di telepon sampai akhirnya..
Gubraaaakkkkk…!!!!!!! tiba-tiba bagian belakang sepeda motor saya ditabrak oleh seorang lalaki yang mengendarai sepeda butut,saya pun terkejut dan hampir saja terjatuh dari sepeda motor,beruntung kaki saya masih cukup kuat untuk menopang tubuh agar tidak terjatuh, pembicaraan di telepon dengan rekan saya saat itu pun akhirnya ikut terhenti.
Emosi saya pun tersulut saat itu,namun syukurlah perasaan itu seketika
hilang bersamaan saat saya melihat sosok lelaki bersepeda yang menabarak
saya tadi,usianya saya taksir berkisar tiga puluhan, wajahnya terlihat
sedih bajunya pun terlihat tidak layak pakai,dan kelihatan sekali kalau
lelaki itu sedang terburu-buru, bahkan sepedanyapun dibiarkannya rebah dan tergelatak di tepi jalan.
” Maaf pak saya tadi tidak sengaja menabrak bapak, saya sedang terburu-buru” kata lelaki itu
” o, tidak apa-apa ” sahut saya dengan parasaan kaget yang belum hilang,
tapi tak lama kemudian lelaki itu pun menangis dihadapan saya lebih
tepatnya memelas, meminta belas kasihan saya, sambil tangan meremas-remas bagian bawah bajunya yang kumal sambil berkata,..
“Pak tolong pinjami saya uang pak, saya ingin membeli obat, anak saya
sedang sakit, saya tidak mempunyai uang, saya belum mempunyai pekerjaan.,.saya janji nanti setelah saya punya uang akan saya kembalikan..
..tolonglah saya pak..”
Perasaan kaget saya bertambah, berbagai perasaan berkecamuk di dalam
diri saya, khawatir,bingung, kasihan jadi satu, bagaimana mungkin, orang
yang belum saya kenal sama sekali meminjam uang kepada saya, bahkan nama dan tempat tinggalnya pun saya tidak tahu, lantas apa jaminannya..?
namun perasaan seperti itupun saya buang jauh-jauh cuma tertinggal rasa
iba dan kasihan saja…
“Baiklah pak, bapak tidak usah meminjam uang dari saya, tapi ada sedikit
uangyang akan saya berikan kepada bapak, tidak banyak, cuma dua puluh ribu rupiah, semoga uang ini bermanfaat buat bapak, dan semoga anaknya cepat sembuh ya pak..” kata saya sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepada lelaki itu.
“Terima kasih pak… terima kasih banyak..” sahut lelaki itu sambil
menerima uang yang saya berikan,
Belum cukup satu menit, lelaki itupun mengambil sepedanya yang tergeletak
di tepi jalan, mendirikan, lalu mengayuh sepedanya dan hilang dari
pandangan mata, menyisakan berbagai pertanyaan dalam diri saya.
Sekitar satu bulan berlalu dari kejadian itu, saya kembali bertemu dengan
lelaki itu,kali ini di seputaran Banjarmasin Timur, kejadiannyapun sama persis dengan saat kami pertama bertemu, tapi dia tidak sampai menabrak saya, hanya terjatuh sendiri dari sepedanya di sebelah saya dan alasan lelaki
tersebutpun agak berbeda…
“Tolong pak..anak saya belum sembuh, sedangkan uang persediaan saya
sudah habis, saya ingin pinjam uang pak…” kata lelaki itu dengan gaya
yang sama menangis tanpa air mata, sambil kedua tangan meremas-remas
bagian bawah bajunya.
“E..emang anak bapak sebenarnya sakit apa?’… tanya saya lagi dengan
perasaan mulai curiga.
“Sakit panas, pak ! panasnya tidak turun-turun..” jawab lelaki itu lagi.
“Hemmm,… baiklah pak ini ada uang sepuluh ribu, semoga anak bapak
cepat sembuh ya” kata saya, terus terang saya mulai curiga dengan gelagatnya, namun perasaan itu tetap saya buang jauh-jauh, yah itung-itung amal, batin saya.
Tak lama lelaki itupun hilang dari pandangan mata saya, kali ini saya tidak
begitu memperdulikannya.
Kembali sekitar dua mingguan setelah kejadian itu, saat itu saya sedang
survey lapangan , saya kembali di pertemukan dengan lelaki itu, saya tidak mau bilang kalau ini sudah jodoh kali ya, he..he karena dia bukanlah seorang wanita cantik …he..he.., namun teriknya matahari siang itu yang sangat menyengat ternyata bisa mempengaruhi emosi saya.
Lelaki itu kembali dengan gaya dan alasan yang sama datang menghampiri saya, tetapi entahlah setan apa yang sedang berada dalam diri saya,dengan teganya saya membentak lelaki itu…
” apa !!… bapak mau apa…., bapak mau minta uang lagi sama saya..?!!
” memang selama ini bapak anggap saya ini siapa..?!!
” sudahlah pak !! pergi dari sini, saya sedang tidak punya uang, jangan
ganggu saya,saya sedang bekerja..!! pergi..pergi..”!!
bentak saya dengan suara yang keras, samapai-sampai menimbulkan keheranan orang-orang di sekitar saya..
Tanpa, berkata apapun lelaki itu cepat menyambar sepedanya, sepertinya
dia ketakutan, tapi kali ini saya tetap memperhatikannya dari kejauhan,
lelaki ituberhenti tepat di pangkalan ojek yang tak jauh dari tempat
saya berdiri, terlihat dari kejauhan lelaki itu dengan gaya yang sama,
seperti meminta sejumlah uang kepada tukang ojek,tampaknya usaha lelaki
itu berhasil, ini terlihat dari salah satu tukang ojek itu mengeluarkan
dompet dan memberikan sejumlah uang kepada lelaki itu.
Heeemm… saya pun mulai berpikir, bararti selama ini saya sudah diperdayai
oleh lelaki itu, lelaki memanfaatkan kelemahan saya yang mudah iba terhadap orang lain..
Tampaknya kekuasaan Tuhan mempertemukan kami kembali, kali ini saya melihatnya di sebuah pasar pada minggu pagi, pasar itu memang ramai pada saat minggu pagi, dimana sebagian warga Banjarmasin setelah olah raga, pasti singgah di pasar itu, untuk membeli segala keperluan atau hanya untuk sekedar cuci mata, yah semacam pasar kaget lah…
Lelaki itu saya lihat bersama seorang wanita, entah itu pacar atau isterinya saya tidak tahu,kali ini penampilannya sungguh berbeda,pakaiannya bersih, gaya anak muda,malah bisa di bilang necis lengkap dengan topi, lelaki itu
terlihat mesra sekali menggandeng tangan pasangannya.
“Heeemmm… ini dia orangnya “ pikir saya, sambil berusaha mendekatinya,
saya tidak ada maksud lain kecuali hanya ingin menyapanya saja, tapi setelah hampir dekat, lelaki itu melihat saya, entah apa yang ada dalam pikirannya namun sangat terlihat jelas rasa terkejut dan ketakutan di wajahnyanya, saat mengetahui kedatangan saya,secepat mungkin dia raih tangan wanita yang ada disebelahnya, lalu membawanya pergi, hilang ditengah keramaian pasar,…mungkin takut dan malu kalau kelakuannya selama ini terbongkar.
“heemmm.. syukur masih ada rasa malu…” gumam saya dalam hati.
Yah itulah pengalaman saya dengan seorang lelaki yang menurut saya punyamental dan perilaku yang aneh, semoga menjadi pelajaran dan bisa diambil hikmahnya, bahwa jangan mudah percaya dengan penampilan dan gaya seseorang..
Lantas lelaki itu siapa ? “PENGEMIS” atau “PENIPU” ya…?
