Tak terasa liburan anak sekolah tinggal satu minggu lagi, satu minggu kedepan adalah awal tahun ajaran baru, dimana aktifitas belajar dan mengajar kembali di gelar di sekolah sekolah, tanpa kecuali anak saya. Sebagian besar pelajar dari TK hingga SLTA di negeri ini kembali berkutat dengan buku buku pelajaran baru, ya baru karena awal tahun pelajaran ini adalah tahun kenaikan tingkat atau kelas, yang tentunya akan menggunakan buku buku baru dalam arti buku yang dipakai akan beda dengan yang dipakai pada tahun sebelumnya , sesuai dengan level dan jenjang kelasnya.
Bicara tahun ajaran baru, biasanya tak lepas dari keinginan si anak atau pelajar untuk memakai atribut serba baru, mulai dari buku, tas, sepatu, sampai pakaian seragam baru, tak peduli walaupun seragam yang lama masih sangat layak pakai, hal itulah juga yang di alami putri saya, apalagi sejak kepindahannya dari sekolah yang dulu dan sekarang , tidak hanya teman teman dan lingkungan yang baru yang akan ditemuinya tetapi juga seragam baru karena sekolahnya sekarang menerapkan pakaian seragam berbeda, dan sudah barang tentu saya akan membelikannya pakaian seragam yang baru.
Ada sedikit cerita yang dialami saya dan putri saya pada saat awal tahun ajaran baru dua tahun silam , pada saat saya mendaftaran anak saya tersebut di sekolah dasar, anak saya sulit diterima disekolah tersebut, alasannya dikarenakan usianya yang belum mencukupi yaitu usia belum genap 6 tahun, meskipun dia sudah bisa membaca dan menulis, dan saya sengaja tidak menjelaskan sekolah mana, bukan apa apa, takut kasus yang menimpa ibu Prita juga akan menimpa saya..he..he.., pada saat itu terjadi dialog seperti ini
” Maaf… pak …anak bapak belum cukup umur, jadi kami tidak bisa menerima anak bapak, kami hanya menerima dua kelas, jadi kami terpaksa memprioritaskan anak yang sudah cukup umur…” … kata Kepsek sekolah tersebut.,
” atau lihat saja pengumumana besok ,…mungkin anak bapak diterima ..” sambung sang Kepsek tadi..
Hati sayapun mulai gundah, tanpa pikir panjang, saya lalu mendaftarkan anak saya disekolah lain, namun masih satu komplek dengan skolah pertama tadi, tapi ternyata pernyataan pihak sekolah lain tersebutpun tetap sama…, hati sayapun bertambah gusar….satu satunya yang dapat saya lakukan hanya menunggu hasil pengumuman keesokan harinya , siapa tahu anak saya bisa diterima di sekolah itu..
Keesokan harinya sayapun kembali ke sekolah tersebut, dan ternyata anak saya tidak diterima disekolah sekolah tersebut,…hati ini pun semakin resah,
ditengah keresahan tersebut, saya mendengar isyu bahwa di sekolah tersebut ada beberapa siswa baru yang diterima dan umurnya beberapa bulan lebih muda dari anak saya diterima disekolah tersebut, hati saya pun mulai berontak untuk mencari kebenaran berita tersebut, dan ternyata benar adanya, saya pun kembali menemui sang kepala sekolah dan menanyakan perihal tersebut atau protes tepatnya,
” Maaf…pak saya tidak tahu menahu soal itu ,.nanti saya tanyakan dengan panitia PSB,……..” jawab sang Kepsek agak gugup
” Pokoknya bapak harus jelaskan hal ini dengan sejujur jujurnya kepada saya, kalau tidak…!!!!! “ Sayapun mulai mencerca dengan nada sedikit mengancam…
” Sebentar , sebentar pak , bapak bisa tunggu disini sebentar, saya akan keruang tata usaha, nanti saya akan kembali lagi… “ potong sang Kepsek yang semakin kelihatan sangat gugup.
Tak lama beselang sang Kepsek kembali dan berkata…
” anak bapak diterima disekolah ini, ini pak Formulir daftar ulang , segera diisi dan secepatnya dikembalikan kepada kami………”
Saya jadi kaget bercampur heran sekaligus lega mendengar ucapan sang Kepsek
” benar pak …!!!! anak saya diterima disekolah ini ? “ tanya saya kurang yakin dengan apa yang dikatakan sang Kepsek tadi..
“benar pak ,..benar anak bapak kami terima ….” kata sang Kepsek mencoba meyakinkan saya..
Saya pun merasa lega, dengan rasa heran yang masih menghantui pikiran saya, keesokan harinya saya mendengar cerita bahwa disekolah tersebut telah terjadi praktik KKN, dan sang Kepsek sekolah tersebut takut kalau kejadian ini akan terbongkar, sehingga anak saya pun langsung diterima, tapi saya bersyukur bahwa anak saya bisa masuk di sekolah tersebut tanpa terlibat praktik KKN.
Begitu memperihatinkan dunia pendidikan sekarang ini, di tengah tengah iklan dan program sekolah gratis yang di canangkan pemerintah , masih saja ada pungutan pungutan liar yang di lakukan oknum oknum yang tidak bertanggung jawab di sekolah sekolah, bagaimana dengan mereka yang tak memiliki biaya, semoga hal ini jadi perhatian serius pemerintah.
Terakhir, baru kemarin saya melihat ada tulisan besar di sekolah tersebut yang berbunyi ” PENDAFTARAN TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN ” he.. he.. he..syukur dan semoga saja kejadian yang menimpa saya tersebut tidak akan terulang lagi. Postingan ini berdasarkan kisah nyata yang saya alami dan saya tidak bermaksud merusak atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut, namun karena tahun ajaran baru ini, yang mengingatkan kan saya akan kejadian itu lagi , dan saya kira gak ada salahnya kan kalau kita berbagi cerita….???






16 tanggapan so far ↓
pakacil // Juli 5, 2009 pada 6:49 am
wehh… cerita macam ini memang banyak terdengar namun proses pembuktian “sesuatu” dibaliknya itu yang perlu sedikit usaha. Biasanya memang terjadi di sekolah-sekolah yang cukup banyak peminatnya karena beragam alasan (kualitas, jarak, dll).
Tapi pernah pula saya mendengar ada sebuah sekolah yang menolak menerima anak walikota dan guru setempat karena nilainya yang tidak cukup. Akibatnya sang guru marah dan minta pindah tugas ke sekolah lain.
wahyu ¢ wasaka // Juli 5, 2009 pada 6:50 am
Pertamaxxxxxxxxxx…
Hebat. sebuah proses yang sangat hebat.
ADUL Mode On* ada duit urusan lancar. tp tidak bagi bang yul.
wahyu ¢ wasaka // Juli 5, 2009 pada 6:51 am
Jyah keduluan pakacil… yg keduaxxx dan ketigaxx aja deh
soulharmony // Juli 5, 2009 pada 6:52 am
duit pulanglah
manusiahero // Juli 5, 2009 pada 7:04 am
Mentradisi…
Wawan // Juli 5, 2009 pada 7:09 am
Sudah dapat yang pokok, masih aja pungut sana- pungut sini, emang ga ada puasnya ya. atau juga peraturan itu dibuat agar banyak yang sogok…
hm…. sepertinya ada yang harus dirubah..
hymunk // Juli 5, 2009 pada 7:19 am
umai damintu lih kisahnya..kangangalihan handak sakulah..sungguh..teeerrr…lllaaaa…lluuu…
ilamona // Juli 5, 2009 pada 11:37 am
jelas aja gugup yg amun protes sambil manggulung lengan baju, yg protes preman skalinya jadi kada usah pake duit. Hihi.
Eoin // Juli 5, 2009 pada 5:21 pm
1. Kukira ente bujangan..
2. Hebat ih 6 tahun sdh bisa.. Anakku blum hehehe
3. Anaku ga masuk sd, skulnya d darul ma`rifah, 60rb sdh dpt buku untuk setahun penuh.. Hehe.. Pendidikan murah man!
arie // Juli 5, 2009 pada 10:51 pm
Salam kenal om. Enak ya sekolah lain. Masih punya waktu liburan. Sedangkan saya sudah masukan.
fery79 // Juli 6, 2009 pada 2:33 am
MASIIIIIIIIINNNNNNNN bang Yull
aap // Juli 6, 2009 pada 4:01 am
Oh..bang yul sekalinya udah punya anak ya..! (pura-pura kada tahu..).
Praktek begini mungkin masih ada aja sekarang…yang penting lobinya…!
ManusiaSuper // Juli 6, 2009 pada 4:17 am
Satu masalah terselesaikan, putri dah bisa masuk SD.
Masalah lain belum, anak-anak yang masuk SD dengan konon uang suap orang tuanya itu masih ada…
indah // Juli 6, 2009 pada 2:22 pm
sekarang tanpa uang hanya dengan nota dinas yang menyebut dirinya PEJABAT jg banyak om…gmn anak mo pinter ya???awalnya aja udah begitu..susah memang…dari kecil dah di tanamkan KKN secara tdk lgsg..
tp anak om yul pintar,blm 6 thn dh SD..:) g ky saya..hehehhe
iezul // Juli 9, 2009 pada 5:24 am
waahhhh jadi ingat masa kecil dulu…
Said // Juli 15, 2009 pada 1:35 pm
hik hik hik
lama tak berkunjung om